Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 November 2013

Quesioner Penyakit Ckikungunnya

Quisoner Penyakit Chikungnya

I. IDENTITAS RESPONDEN
Nama Responden : …………....
Tanggal Lahir : ...................
Umur :………........
Pendidikan Terakhir :……………
Alamat : ……………
1. Pendidikan :
1. Tidak tamat SD [ ]
2. SD [ ]
3. SLTP [ ]
4. SLTA [ ]
5. Perguruan Tinggi [ ]
2. Pekerjaan :
1. PNS [ ]
2. Karyawan Swasta [ ]
3. Pedagang [ ]
4. Petani [ ]
5. Buruh [ ]
6. Tidak Bekerja [ ]

3. Jenis Kelamin :
1) Laki-laki [ ]
2) Perempuan [ ]
4. Status gizi :
1) Baik [ ]
2) Sedang [ ]
3) Buruk [ ]

 
II. ETIOLOGI PENYAKIT
1. Dalam 3 bulan terakhir, apakah anda pernah terkena penyakit?
a. Sudah pernah
b. Belum pernah
c. Tidak tahu
2. Sudah pernahkah anda mengalami penyakit Chikungunya?
a. Sudah pernah
b. Belum pernah
c. Tidak pernah
2. Berapa lama sakit yang anda anda alami perihal penyakit Chikungunya?
a. 7-10hari
b. 1-2hari
c. Berbulan-bulan
3. Gejala apa yang anda alami pertama kali mengenai penyakit Chikungunya ini ?
a. Demam,Nyeri otot
b. Batuk
c. Ngantuk
4. Apakah anda merasakan sakit Nyeri Otot yang sangat amat sakit sekali?
a. Ya
b. Tidak
c. Ragu-ragu
III. PENGETAHUAN RESPONDEN
1. Apakah anda pernah mendengar atau mendapat penyuluhan dari petugas kesehatan tentang penyakit Chikungunya?
a. Pernah
b. Tidak Pernah
c. Tidak Tahu
2. Menurut anda apa yang dimaksud dengan penyakit Chikungunya ?
a. Demam lebih dari tiga hari
b. Demam sehari
c. Mual dan muntah
3. Menurut anda bila penderita Chikungunya, bagaimana suhu tubuhnya?
a. Tinggi
b. Sedang
c. Rendah
4. Menurut anda, apa yang menyebabkan sakit Chikungunya?
a. Lingkungan dan rumah yang kurang bersih
b. Kurang makan sayur
c. Tidak Tahu
5. Menurut anda, apakah penyakit Chikungunya dapat menular pada orang lain?
a. Dapat
b. Tidak dapat
c. Tidak tahu
6. Apakah anda tahu, bagaimana cara mencegah Chikungunya ?
a. Tahu
b. Tidak tahu
c. Ragu–ragu
7. Bila anda menderita Chikungunya, apakah pencegahan dini sudah anda lakukan ?
a. Sudah
b. Belum
c. Tidak tahu
8. Apakah anda tahu jenis nyamuk yang menyebabkan penyakit Chikungunnya?
a. Tahu
b. Tidak tahu
c. Ragu-ragu
9. Apakah anda tahu bakteri yang menyebabkan penyakit Chikungunya?
a. Tahu
b. Tidak tahu
c. Ragu-ragu
10. Apakah anda memakai obat nyamuk bakar/dll untuk pencegahan penyakit Chikungunnya?
a. Ya
b. Tidak
c. Ragu-ragu





IV. SIKAP
1. Apakah anda setuju bila sebaiknya kita harus menjaga rumah dan lingkungan agar jauh dari penyakit ini?
a. Setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
2. Apakah anda setuju bila kita harus mencegah penyakit Chikungunya ini?
a. Setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
3. Apakah anda setuju bila diadakannya seminar tentang bahaya penyakit chikungunnya?
a. Setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
4. Apakah anda setuju bila diadakannya goyong royong membersihkan lingkungan sekitar rumah anda?
a. Setuju
b. Tidak setuju
c. Tidak tahu
5. Apakah anda setuju bila diadakannya fogging?
a. Setuju
b. Tidak setuju
c. Tidak tahu
6. Apakah anda setuju bila setiap rumah di beri obat anti nyamuk?
a. Setuju
b. Tidak setuju
c. Tidak tahu
7. Apakah anda setuju bila setiap rumah harus dipasang kasa pada setiap ventilasi?
a. Setuju
b. Tidak setuju
c. Tidak tahu


8. Apakah anda setuju bila setiap rumah harus memasang kelambu pada tempat tidur?
a. Setuju
b. Tidak setuju
c. Tidak tahu
9. Apakah anda setuju bila setiap rumah diberi abate di kamar mandi?
a. Setuju
b. Tidak setuju
c. Tidak tahu
10. Apakah anda setuju bila pakaian tidak digantungkan di pintu kamar?
a. Setuju
b. Tidak setuju
c. Tidak tahu
 
V. TINDAKAN
1. Apakah anda sudah berpola hidup bersih dan berpola hidup sehat agar jauh dari penyakit Chikungunya ini?
a. Sudah
b. Belum
c. Jarang
2. Seberapa sering anda mampu berpola hidup bersih dan berpola hidup sehat?
a. Sering
b. Jarang
c. Belum pernah
3. Dapatkah anda menerapkan pola hidup bersih dan sehat kepada masyarakat lain?
a. Dapat
b. Tidak dapat
c. Ragu-ragu
4. Menurut kebiasaan berpola hidup bersih dan berpola hidup sehat penting atau tidak?
a. Penting
b. Sangat penting
c. Tidak penting sama sekali




Share READ MORE - Quesioner Penyakit Ckikungunnya

Jumat, 01 Maret 2013

PENGHIJAUAN 14 RIBU POHON BEKERJA SAMA DENGAN PDAM, KODIM DI DESA GENILANGIT MAGETAN

Pagi itu, tanggal 27 Februari 2013 hari Rabu, saya bersiap-siap berangkat ke kampus jam 06.30. Kenapa berangkat jam 06.30? Karena sebenarnya saya diminta untuk ikut dalam penghijauan, waktu itu lokasi dan tempat masih dirahasiakan. Setelah semua berkumpul di kampus, selanjutnya saya dan teman-teman lain bersama anggota PDAM Magetan ( Bapak Gunawan dan yang lain). Bersama-sama naik mobil box (bagian belakang terbuka), seru juga sih 
Memang belum pernah sih perjalanan ke gunung seperti itu, hehehhe (pengalaman juga). Perjalanan disana sangat seru dengan guyonan para teman-teman dan kakak tingkat, dengan jalan yang berkelok-kelok khas jalan di pergunungan 
Setelah sampai di lokasi penghijauan di Desa Genilangit, sebuah tenda telah terpasang di SDN 2 Genilangit dan TK Siti…(Kepanjangannya lupa, hehehehe). Kami diminta untuk gladi bersih bersama siswa-siswa SD dan TK, dengan menyayikan lagu “Selamat Datang” disepanjang jalan saat Bapak Bupati datang. Pembagian tugas dengan 4 orang akan menjadi pemandu saat Bapak Bupati menanam dan melakukan penghijauan bersama Komandan Kodim dan Dirut PDAM ( Mbak Try memandu Bapak Bupati, Saya memandu Komandan Kodim, Mbak Mella memandu Dirut PDAM, dan Insan bersiap dibawah dengan ember dan handuk beserta sabun cuci tangan), dan sisanya akan menyerahkan pohon Po’o kepada Dirut PDAM diserahkan kepada warga (Lurah Genilangit) dan sisanya lagi akan menyerahkan sepatu boot (kalau-kalau Bapak Bupati tidak membawa sepatu ket dan ingin memakai sepatu boot). Partisipasi warga terlihat sekali disana dan antusiame warga pun terlihat, berjajar dirumah-rumah menyambut Bapak Bupati dan sebagian warga juga bergotong royong untuk memasak makanan (prasmanan). Tak lupa juga ternyata Pak Sigit Gunawan, M.Kes, yaitu Ketua Prodi Kesehatan Lingkungan Kampus Magetan pun ternyata juga hadir loh, bersama 2 ibu dosen kami.
Lama menunggu Bapak Bupati datang, kami bersama warga dihibur oleh dangdut dan campursari. Jam 11.00 siang, kami bersiap menyambut kedatangan Bapak Bupati, berjajar dn menyanyikan lagu “Selamat Datang” bersama anak-anak SD. Acara pun dimulai dari sambutan Bapak Dirut PDAM sampai sambutan Bapak Bupati, dan penyerahan pohonn po’oh kepada Lurah Desa Genilangit. Acara inti adalah penanaman pohon po’oh, kenapa harus pohon po’oh bukan pohon-pohon yang lain? Karena pohon po’oh sangat cocok ditanam dipegunungan selain itu, dapat membuat struktur tanah di pegunungan stabil. Ke-4 orang tadi memandu ke tempat penanaman pohon po’oh dengan diiringi para jajaran pejabat, wartawan dll. Saya pun memandu Bapak Komandan Kodim untuk menanam pohon po’oh tersebut.
Setelah acara penanaman selesai (ternyata penanaman secara simbolis saja, 14 ribu pohon lagi akan ditanam warga Genilangit beserta para awak Kodim), acara makan-makan pun dimulai dan terasa sekali sikap kekeluargaan mereka, seluruh wargapun langsung menyantap makanan, tak ketinggalan para petinggi Kab.Magetan itu.
Sekitar jam 13.00 siang, kami pulang, dan mampir sebentar di sebuah wihara (karena dulunya Desa Genilangit adalah pusat agama hindu &budha) dan diatasnya lagi ada sebuah makam sesepuh Ki Ageng …. (Lupa namanya, hehehehe)
Woww….perjalanan penuh adrenalin, seru, tak lupa guyon-guyonan setiap perjalanan pulang ke kampus 

Share READ MORE - PENGHIJAUAN 14 RIBU POHON BEKERJA SAMA DENGAN PDAM, KODIM DI DESA GENILANGIT MAGETAN

Senin, 18 Februari 2013

Sejarah Hari Sampah Nasional

Hari sampah nasional ditetapkan hari ini 21 Febuari sejak tahun 2005 untuk mengenang tragedi longsornya TPA Leuwigajah


Lima tahun lalu, tepatnya 21 Februari 2005 pada dini hari, tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Leuwigajah longsor dan mengubur 143 orang tewas seketika. Sekitar 137 rumah di Desa Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung dan dua rumah di Desa Leuwigajah, Cimahi, Provinsi Jawa Barat juga tertimbun longsoran sampah dengan ketinggian mencapai 3 meter.

Selain itu, ribuan ton kubik sampah juga mengubur kebun dan lahan pertanian milik warga Kampung Pojok, Cimahi Selatan Tragedi ini kemudian dicanangkan sebagai Hari Sampah Nasional. Tentu, ini dimaksudkan agar semua pihak peduli dengan masalah pengelolaan sampah ini. Lebih jauh lagi, sudah saatnya TPA dikelola secara benar.

Tahukah kawan bahwa sekitar 90% tempat pembuangan akhir (TPA) yang ada di Indonesia dinilai belum memenuhi syarat. Hal ini didukung oleh pernyataan Asisten Deputi Unsur Pengendalian Pencemaran Limbah Domestik Kementrian Lingkungan Hidup,Tri Bangun L. Soni mengatakan bahwa tempat pembuangan sampah di 26 kota besar termasuk metropolitan rawan longsor. Kondisi tersebut menempatkan Negara Indonesia tercinta ini sebagai negara tertinggi angka kematian penduduknya akibat sampah. Total rata-rata sampah nasional mencapai 200 ribu ton per hari dan dari angka tersebut kota Jabodetabek merupakan kota penyumbang sampah terbesar yaitu sekitar 25.000 ton per hari.

Bayangkan kawan bagaimana dengan sebulan kalau sampah ini menumpuk dan tidak ada penanganannya secara terpadu dan tersistem. Pertambahan penduduk dapat menyebabkan bertambahnya volume sampah. Hal ini dipengaruhi juga oleh pola konsumsi masyarakat dan paradigma masyarakat yang masih menganggap sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang atau disingkirkan.

Di sisi lain pengelolaan sampah hanya dilakukan sebagai sesuatu yang pengelolaannya bersifat rutin yaitu hanya dengan cara memindahkan, membuang, dan memusnahkan sampah. Pada akhirnya hal ini berdampak pada semakin langkanya tempat untuk membuang sampah dan produksi sampah yang semakin banyak mencapai ribuan m3 per hari. Masalah ini bias menimbulkan masalah lagi yaitu dapat menyebabkan munculnya TPA/TPS illegal dalam arti membuang sampah di lahan kosong atau di sungai-sungai. Fenomena ini yang akhirnya pada tahun 2009 dan 2010 kota Jakarta sebagai Ibukota Negara mengalami musibah banjir dikarenakan banyak terdapat sampah-sampah di sungai maupun saluran pembuangan yang tidak dapat bekerja dengan baik tersumbat dan air akan meluap.

Lingkungan hidup saat ini menunjukan gejala yang makin memprihatinkan, mulai dari pencemaran air sungai baik yang disebabkan pembuangan limbah pabrik maupun limbah domestik, pencemaran udara yang disebabkan karena pembuangan gas emisi baik dari pabrik maupun kendaraan bermotor, hingga masalah krisis air bersih yang makin mengancam di masa yang akan datang. Salah satu persoalan lingkungan yang belum menunjukkan perbaikan yang berarti adalah masalah Gerakan mengurangi sampah

Untuk itu maka dalam rangka mengurangi “beban” pemerintah kota dalam mengurusi masalah sampah maka kita harus bersikap lebih “bijak”, yakni mengurangi “nyampah”. Gerakan mengurangi sampah tersebut dilakukan mulai dari hulu (industri) hingga hilir (konsumen/masyarakat). Di tingkat industri pengurangan sampah dilakukan mulai dari merancang kemasan produk, penantuan bahan kemasan produk, hingga bertanggung jawab terhadap kemasan produk yang berada di tingkat konsumen. Di tingkat konsumen atau masyarakat pengurangan sampah dapat dilakukan dengan merubah berbagai kebiasaan yang menyebabkan timbulnya sampah, misalnya dalam berbelanja ke pasar atau ke supermarket maka bawalah kantong dari rumah yang dapat digunakan khusus berbelanja jadi tidak menggunakan kantong kresek, janganlah membuang produk yang masih bisa digunakan tapi sumbangkan ke orang lain yang mungkin membutuhkan.

Jadikan sampah sebagai berkah

Dalam rangka upaya mengurangi sampah maka kita harus merubah mindset kita dari cara pandang sampah hanya sebagai waste yang harus dibuang menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan dan bahkan bernilai ekonomi. Kita semua juga mungkin sudah tahu banyak para pelaku sector informal yang melakukan usaha dengan berbahan sampah tersebut sehingga bagi mereka sampah bukan masalah tapi berkah.

Mengawali upaya agar sampah di rumah tangga menjadi berkah (bukan masalah) maka langkah harus dilakukan adalah memilah sampah. Pemilahan dilakukan minimal memisahkan sampah organik/mudah busuk/dapat dikomposkan dan sampah non organik/tidak mudah busuk/tidak dapat dikomposkan, atau pemilahan dilakukan sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan kita selanjutnya. Berikut ini adalah contoh pemilahan sampah di rumah tangga dan tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan untuk mengurangi sampah :

Bila pemilahan tersebut sudah dilakukan maka hampir sebagian besar sampah sebenarnya masih dapat dimanfaatkan baik oleh si penghasil sampah itu sendiri maupun oleh orang lain.

Gerakan “Bank Sampah” di Masyarakat

Bank Sampah adalah sebuah kreasi inovatif yang dilakukan masyarakat dalam memanfaatkan nilai ekonomi yang terkandung dalam sampah, dan secara tidak langsung dapat mengurangi sampah yang dibuang. Seperti halnya bank lainnya yang kita kenal, bank sampah ini ada manajemen pengelolanya, ada nasabahnya dan ada pencatatan pembukuannya. Apabila dalam bank yang biasa kita kenal yang disetorkan nasabah adalah uang maka dalam Bank Sampah yang disetorkan “nasabah”nya adalah sampah yang dipandang bernilai ekonomis. Kemudian pengelola Bank Sampah harus melakukan upaya kreatif dan inovatif agar sampah-sampah yang dihimpun dari “nasabah” dapat menjadi uang. Oleh karena itu, pengelola Bank Sampah tersebut harus merupakan orang-orang yang kreatif dan inovatif serta memiliki jiwa kewirausahaan.


Kesimpulan

Dilihat dari karakteristik fisik-kimia nya, sampah memang bisa jadi masalah lingkungan bila tidak ditangani dengan baik apalagi bila sudah terakumulasi dalam skala kota. Namun demikian sampah bisa menjadi berkah bila “beraliansi” dengan tangan-tangan kreatif dan inovatif. Untuk itu maka dalam rangka mengurangi sampah yang akhir-akhir ini menjadi ancaman setiap kota khususnya Kota Bandung, maka perlu dilakukan sebanyak-banyaknya “aliansi” sampah dengan masyarakat. Dengan tangan-tangan kreatif dan pemikiran-pemikiran inovatif ternyata sampah yang selama ini sering dianggap masalah, bagi mereka justru menjadi berkah. Untuk itu tidak berlebihan kiranya apabila mereka saat ini memiliki motto : “Lebih Baik Hidup dari Sampah dari Pada Hidup Menjadi Sampah”.

cc : http://csrpdamkotabogor.wordpress.com
Share READ MORE - Sejarah Hari Sampah Nasional

Minggu, 17 Februari 2013

Hari Sampah Nasional

Assalamu'alaikum warohmatullahi'wabarokatuh
Tahukah Andah bahwa dibulan februari ini ada sebuah moment yang sering menjadi permasalahan dimuka bumi ini, ya SAMPAH. Anda pasi juga dengar kata-kata ini sering malah setiap hari mungkin yaa :D
Banyak dari kita yang tidak tahu bahwa tanggal 21 Februari adalah Hari Sampah (Keren yaa...sampah aja dirayain loh)

Apakah Anda sudah sadar akan sampah disekitar kita? Pasti kebanyakan belom :)
Masih banyak masyarakat yang membuang sampah tidak pada tempatnya, padahal sudah disediakan tempat sampah yang jelas-jelas terlihat oleh mata kita, tetapi kebanyakan enggan membuang sampah pada tempatnya. Mengapa demikian? Karena tingkat kesadaran pada masyarakat masih sangat rendah. Lihat deh Singapura, negara kecil, dibandingkan dengan Indonesia? Kalah jauh Singapura, tapi apa perbedaanya? Di Singapura sangat rapih, bersih, tidak ada sampah yang berserakah, tingkat kesadaran akan sampah sangat tinggi disana dibandingkan dengan di Indonesia.

Kalo di Indonesia, dimana-mana sampah. Disungai sampah, di WC umum sampah, waduh2....Sepertinya harus ada petugas sampah ya.

Dilansir dari www.tempo.co
TEMPO.CO, Palembang - Sampah kini jadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup di Indonesia. Bila tidak dikelola dengan baik, beberapa tahun mendatang sekitar 250 Juta rakyat Indonesia akan hidup bersama tumpukan sampah.

Kementerian Lingkungan hidup mencatat rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari jumlah total penduduk. Kondisi ini akan terus bertambah sesuai dengan kondisi lingkungannya.

"Setiap hari masing-masing orang menghasilkan 2,5 liter sampah, kalkulasikan dengan jumlah penduduk," kata Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya, Sabtu 14 April 2012 saat meresmikan Bank Sampah di Palembang.

Menurut Menteri Balthasar, dibutuhkan kesadaran pribadi untuk mengurangi dampak negatif penumpukan sampah. Kementerian memberikan dana stimulan untuk menanggulangi persoalan sampah.

"Tahun ini untuk Palembang kami mengucurkan dana hingga Rp 50 Miliar," katanya. Dana ini sebagai stimulan buat Bank Sampah, proyek penghijauan, serta program meminimalisir dampak asap kendaraan bermotor.

Hingga kini sudah ada 250 Bank sampah di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia. Keberadaan Bank Sampah, untuk sementara diutamakan di kota-kota peraih Adipura. Selain Palembang, ada dua kota yang jadi percontohan pengelolaan sampah rumah tangga, yaitu Surabaya dan Malang di Jawa Timur.


DAN INDONESIA PERLU MENTERI PERSAMPAHAN (Siapa yang mau?)
Fakta dan Hasil survey serta kegerahan melihat sampah dan tata kelolanya di Indonesia, sepertinya harus di manaj secara khusus dan fokus dengan kelembagan/institusi/badan tersendiri. Sepertinya Indonesia butuh kementerian persampahan. Kenapa demikian, karena sampah sudah menjadi masalah nasional dan bahkan masalah global. Selaku pengelola dan pemerhati masalah sampah dan lingkungan, kondisi sampah di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan utamanya di wilayah perkotaan seperti DKI Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Sebut Kota Megapolitan Jakarta misalnya, memiliki 6 Kab/Kota (Kepulauan Seribu, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Barat dan Jakarta Selatan). Sepertinya pemerintah tidak mampu mengatasinya dan sangat kewalahan. Timbulan sampah di sana-sini, semrawut saja, dan diperkirakan sampah Jakarta perharinya mencapai 5.000-6.500 Ton/hari. Sementara, DKI Jakarta tidak memiliki Tempat Pembuangan sampah Ahir (TPA) yang memadai. Terpaksa menyewa di TPA Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, biaya sewanya Rp.107.000/Ton, sungguh fantastis biaya sampah ini. Begitupun kota-kota penyanggah Jakarta, sebut misalnya Kota Tangerang Selatan, Banten juga tidak memiliki TPA termasuk Kota Tangerang sendiri.

Kementerian Lingkungan hidup mencatat rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari jumlah total penduduk. Kondisi ini akan terus bertambah sesuai dengan kondisi lingkungannya. “Setiap hari masing-masing orang menghasilkan 2,5 liter sampah, kalkulasikan dengan jumlah penduduk,” kata Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Balthasar Kambuaya, Sabtu 14 April 2012 saat meresmikan Bank Sampah di Palembang.

Kenapa saya mencoba melempar wacana pembentukan Kementerian Persampahan ini. Karena melihat penomena pengelolaan persampahan di Indonesia sampai saat ini semakin memprihatinkan saja. Pemerintah Kabupaten dan Kota sepertinya setengah hati dalam mengelola sampahnya di daerah, hampir semua pengelolaan sampah tidak berjalan sebagaimana mestinya dan terjadi stagnan. Juga masih ada perda sampah yang tidak pernah di revisi dan malah ada daerah yang tidak memiliki perda persampahan.

Ada juga satu penomena (sesuai fakta dalam survey persampahan yang dilakukan oleh tim kami di daerah) bahwa sektor sampah memang banyak fulus didalamnya dan menjadi sumber korupsi terbesar ada juga di pengelolaan persampahan yang dilakukan oleh “oknum” pejabat pemerintah daerah Kab/Kota.
Pengelolaan persampahan di Indonesia sebenarnya tinggal menunggu kepedulian yang serius oleh pemerintah daerah,. Karena, regulasi persampahan sebenarnya sudah cukup memadai yaitu dengan adanya UU.18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, UU.32 Tahun 2009 Tentang Pengelolaan dan Pengendalian Lingkungan Hidup, juga sydah ada Permendagri No.33 Tahun 2010 Tentang Pedoman Pengelolaan Sampah. Maka dengan adanya regulasi tersebut, pemerintah daerah sudah menjadi keharusan merevisi perda persampahannya yang bernapas regulasi tersebut. Salah satu contoh Perda Persampahan Kota Samarinda (Perda No.2 Tahun 2011 Ttg.Pengelolaan Sampah) yang sudah senapas dengan regulasi persampahan tersebut.

Solusi Sampah di Indonesia by Sentralisasi-Desentralisasi (orientasi ekonomi)

Selama ini pemerintah daerah (Kab/Kota) di Indonesia dalam mengelola sampah masih bertumpu pada pengelolaan di TPA, itupun masih menerapkan pola open dumping yang sentralistik, padahal (walau belum efektif, regulasinya sudah ada) belum juga “mencoba” mengaplikasi UU tersebut. Tapi tahun 2013 yad, UU Persampahan ini akan diberlakukan efektif, jadi pola open dumping yang sentralistik harus segera ditinggalkan. Harus berorientasi ekonomi, dimana asfek ekonomi inilah sebagai trigernya. Maka harus memanfaatkan teknologi olah sampah mengarah ekonomi (terjamin pasar).

Begitu juga dalam mengantisipasi pelaksanaan pengadaan sarana persampahan, pemerintah sendiri masih setengah hati menjalankan Perpres No.54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (perpres ini telah mengalami 2 (dua) kali perubahan yaitu Perpres No. 35 Tahun 2011 dan Perpres No. 70 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua atas Perpres No.54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, dan Penjelasan Perpres No.70 Tahun 2012. Tapi kenyataannya pemerintah daerah masih enggan meninggalkan Kepres 80 Tahun 2003 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selalu berdasar pada nilai/besaran anggaran pekerjaan semata, belum melihat spesifik pekerjaan. Dalam mengantisipasinya peran Asosiasi Konsultan non Konstruksi (Askindo) dan LSM Lingkungan/Persampahan sangat diharapkan untuk mendampingi pemerintah dan pihak swasta/masyarakat. Pengelolaan sampah sebenarnya sebuah pekerjaan spesifik dan kurang diminati, yang seharusnya dalam pelaksanaan pekerjaannya tidak semestinya atau tidak seharus nya ditenderkan. Bisa saja swakelola dan/atau pemilihan langsung dan/atau penunjukan langsung, karena juga membutuhkan partisipasi langsung masyarakat sebagai produsen sampah. Dimana swakelola pula bertujuan mendorong dan meningkatkan tercapainya percepatan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan. Ini yang kurang difahami oleh Pengguna Anggaran (PA) dan/atau Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) di daerah. (Baca postingan di wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/08/04/catatan-buat-modis-dan-bukber-kompasiana-plus-kemenparekraf).

Fokus Kelola Sampah by Kementerian Persampahan.

Seharusnya, masalah persampahan ini ada kelembagaan khusus yang mengurusnya. “Indonesia ini butuh Kementerian Persampahan, yang bisa mengatur tata kelola sampah berbasis ekonomi. Kalau cuma mengandalkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kemendagri tidak bisa fokus, karena mereka bekerja parsial (Kementerian LH sangat luas wilayah tugasnya juga di Kemendagri terlalu kompleks disana. Tapi toh kalau wacana ini masih berat (konsekuensi anggaran), maka setidaknya di Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI, dibentuk Deputy Menteri Bidang Persampahan (bukan cuma Asisten Deputy), untuk mensinergikan dan aktualisasi program lintas kementerian/lembaga/badan/pemerintah daerah. Termasuk pola kerjasama antardaerah (regionalisasi management) dalam sektor pengelolaan sampah.

Jadi pengelolaan “makro” persampahan akan terfokus, tidak seperti yang ada saat ini, semua kementerian, termasuk Kementerian PU dan kementerian lainnya ada anggaran yang mungkin bisa saja ngawur disana, K/L/B/I masing-masing membuat perencanaan tapi terpisah dan tidak terintegrasi. Sebaiknya ada Master Plan Perencanaan Sampah Nasional yang terintegrasi kesemua kementerian terkait, demi efisiensi anggaran dan terjadi fokus. Termasuk pada Kementerian Pariwisata dan Pengembangan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perindustrian dan juga Kementerian Pertanian. Semua harus duduk semeja dalam membicarakan sekaligus merencanakan pengelolaan persampahan ini.

Duduk semeja semua kementerian ini, sangatlah susah dan bisa terjadi pemborosan anggaran dimana-mana, maka jalan terbaik adalah pembentukan Kementerian Persampahan RI, memang kelihatannya akan menyerap anggaran baru, tapi jauh akan lebih efisien dan sustainable bila ada kelembagaan khusus tersebut.


Share READ MORE - Hari Sampah Nasional

Sabtu, 02 Februari 2013

SERTIJAB HIMA 2012 / 2013

Sore itu sms masuk di hape saya, saya baca sejenak ternyata dari teman sekampus saya, "Untuk calon Hima, SERTIJAB besok pake seragam lengkap, jilbab, rok biru dongker". Saya tersenyum kecut, saya ambil tindakan untuk sms kakak tingkat saya yang punya seragam lengkap (karena seraga saya belom jadi). Akhirnya, sang sahabat saya dari AKBID Poltekkes Kemenkes Surabaya di Magetan, bersedia membantu dan meminjamkan seragam kepada kakak tingkatnya. Dalam hati "Alhamdulillah" :D
Senengnya...
Pagi harinya bersiap-siap dengan memakai seragam lengakap, hari itu 01-02-2013 (nomor cantik bukan? 1213 loh)
Anggota HIMA baru berjejer-jejer di ruang audit, bersiap-siap memasuki ruangan audit. Satu persatu nama-nama anggota dan jabatan. Saya yang berdiri grogi, mulai berjalan karena sudah disebut nama dan jabatan saya (IRA MUSTIKA NINGRUM, SIE TEKNOLOGI, INFORMASI DAN KOMUNIKASI, dengan bidang PENGEMBANGAN JARINGAN)

Share READ MORE - SERTIJAB HIMA 2012 / 2013

Jumat, 25 Januari 2013

PEMILIHAN KAHIMA 2012 / 2013 PRODI KESEHATAN LINGKUNGAN KAMPUS MAGETAN

Berbondong-bondong muda-mudi dengan pakaian ala mahasiswa sedang mengantri untuk masuk ke ruang audit kampus magetan. Ada apa gerangan yang terjadi? Ternyata oh ternyata, kampus magetan sedang melakukan pesta demokrasi, yap…pemilihan calon ketua hima baru tahun pelajaran 2012/2013. Saya yang juga kedapatan hak suara untuk mencontreng langsung kahima dan mahasiswa-mahasiswa yang lain dari semester 1-5 dan para dosen juga. Misi dan visi telah mereka orasikan didepan kami semua. Ya harapan saya dan teman-teman, kawan-kawan mahasiswa, semoga yang terpilih menjadi KAHIMA 2012/2013 amanah, tanggung jawab, dan dapat mewujudkan apa yang dikatakan pada orasi hari ini. :D Amin

Share READ MORE - PEMILIHAN KAHIMA 2012 / 2013 PRODI KESEHATAN LINGKUNGAN KAMPUS MAGETAN

Minggu, 13 Januari 2013

YUK…BELAJAR DARI TANAMAN INI!

Apa yang anda fikirkan ketika melihat tanaman ini?
Kasihan? Tanaman jelek? Terkagum-kagum? Coba anda fikirkan dan amati disekitar tanaman tersebut, batuan, cadas disekitar tanaman itu tumbuh, tapi tanaman tersebut dapat tumbuh subur dengan suburnya? Akar-akarnya pun dapat kokoh menahan batang tanaman tersebut. Lalu, apa hubungannya manusia dengan tanaman itu?.
• Tanaman tersebut tumbuh diantara batu-batuan, diibaratkan manusia yang hidup dalam situasi sulit tetapi dia bisa bersabar, telaten, semangat dalam menjalani hidup walaupun dia menyadari dia dalam situasi sulit.
• Tanaman tersebut tumbuh subur, diibaratkan manusia yang hidup dalam situasi sulit tetapi dengan kesabaran,, ketelatenannya itu sedikit demi sedikit akan menuai hasil yang memuaskan, menggembirakan, dan membuat orang disekitarnya takjub akan keberhasilan yang diperolehnya, selain itu membuat orang tak menyangka dia dapat menuai hasil yang waww dalam situasi yang amat sulit.
Jadi, mari belajarlah dari tanaman tersebut. Sesulit apapun yang kita hadapi, hadapilah dengan penuh kesabaran, ketelatenan, dan berusaha. Insyaallah semua kesabaran, ketelatenan dan usaha kita akan terbayarkan dengan hasil yang jauh lebih baik :D

Share READ MORE - YUK…BELAJAR DARI TANAMAN INI!

Selasa, 11 September 2012

Toksikologi Lingkungan

1. Pengertian Toksikologi Toksikologi adalah ilmu yang menetapkan batas aman dari bahan kimia (Casarett and Doulls, 1995). Selain itu toksikologi juga mempelajari jejas/kerusakan/ cedera pada organisme (hewan, tumbuhan, manusia) yang diakibatkan oleh suatu materi substansi/energi, mempelajari racun, tidak saja efeknya, tetapi juga mekanisme terjadinya efek tersebut pada organisme dan mempelajari kerja kimia yang merugikan terhadap organisme. Banyak sekali peran toksikologi dalam kehidupan sehari-hari tetapi bila dikaitkan dengan lingkungan dikenal istilah toksikologi lingkungan dan ekotoksikologi. Dua kata toksikologi lingkungan dengan ekotoksikologi yang hampir sama maknanya ini sering sekali menjadi perdebatan. Toksikologi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari racun kimia dan fisik yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan menimbulkan pencemaran lingkungan (Cassaret, 2000) dan Ekotoksikologi adalah ilmu yang mempelajari racun kimia dan fisik pada mahluk hidup, khususnya populasi dan komunitas termasuk ekosistem, termasuk jalan masuknya agen dan interaksi dengan lingkungan (Butler, 1978). Dengan demikian ekotoksikologi merupakan bagian dari toksikologi lingkungan. Kebutuhan akan toksikologi lingkungan meningkat ditinjau dari : • Proses Modernisasi yang akan menaikan konsumsi sehingga produksi juga harus meningkat, dengan demikian industrialisasi dan penggunaan energi akan meningkat yang tentunya akan meningkatkan resiko toksikologis. • Proses industrialisasi akan memanfaatkan bahan baku kimia, fisika, biologi yang akan menghasilkan buangan dalam bentuk gas, cair, dan padat yang meningkat. Buangan ini tentunya akan menimbulkan perubahan kualitas lingkungan yang mengakibatkan resiko pencemaran, sehingga resiko toksikologi juga akan meningkat. Tujuan Toksikologi Lingkungan adalah : Mencari substansi yang aman, yang berarti dapat mempelajari mekanisme racun terhadap organisme. Mencegah terjadinya efek yang tidak dikehendaki terhadap organisme dan lingkungan yang berarti harus dapat mengidentifikasi secara kuantitatif racun yang ada di dalam organisme, udara, air. tanah. Membuat kriteria dasar untuk standarisasi Dapat memperbaiki cara pengobatan keracunan/ membuat antidotum Bila zat toksik ini masuk ke dalam tubuh, dan menimbulkan efek, maka hal ini yang dikatakan sebagai keracunan atau dengan kata lain adalah keadaan tidak normal akibat efek racun karena kecelakaan, bunuh diri, tindak kriminal, jabatan. Efek keracunan yang terjadi dapat bersifat akut, sub-akut, khronis, delayed. Hal ini ditentukan oleh waktu, lokasi organ (lokal/sistemik). Kemampuan racun untuk menimbulkan kerusakan apabila masuk kedalam tubuh dan lokasi organ yang rentan disebut toksisitas. Toksisitas dapat ditentukan dari beberapa faktor yaitu : • Spesies (jenis mahluk hidup: hewan, manusia, tumbuhan) • Portal of entry , cara masuknya zat racun tersebut: kulit, pernafasan dan mulut • Bentuk/ sifat kimia – fisik dll Di dalam lingkungan dikenal zat xenobiotik yaitu zat yang asing bagi tubuh, dapat diperoleh dari luar tubuh (eksogen) maupun dari dalam tubuh (endogen). Xenobiotik yang dari luar tubuh dapat dihasilkan dari suatu kegiatan atau aktivitas manusia dan masuk ke dalam lingkungan. Bila organisme terpajan oleh zat xenobiotik maka zat ini akan masuk ke dalam organisme dan dapat menimbulkan efek biologis. Zat toksik atau racun dapat diklasifikasikan atas dasar : sumber, jenis, wujud, sifat kimia/ fisik, terbentuk dan efek kesehatan. • Sumber : a. Alamiah b. Buatan c. Domestik, industrial, komersial • Atas Dasar Jenis : a. Wujud : padat, gas, cair b. Sifat kimia/fisik : korosif, radioaktif, evaporatif, explosif, reaktif c. Terbentuknya : primer, sekunder, tersier d. Efek kesehatan : • Fibrosis : Pertumbuhan jaringan ikat dalam jumlah yang berlebihan ( silikosis, cobaltosis, baritosis, asbestosis, bagasosis dll) • Granuloma : Benjolan akibat proses peradangan menahun (berilicosis) • Demam : Meningkatnya temperatur tubuh (Mn,Zn,Sn, As, Cd) • Asphyxia : keadaan dimana darah & jaringan keurangan O2 • Alergi : Reaksi berlebih terhadap materi tertentu (debu organik & anorganik) • Kanker : Pertumbuhan sel yang tidak terkendali ( benzidin& garam-garam, Cr) • Mutasi : Perubahan susunan & jumlah gen (radioaktif) • Teratogen: Cacat (redioaktif, helium) • Sistemik : Racun yang menyerang hambpir ke seluruh organ tubuh (Pb,Hg,Cd,F,Va,Ti,Tel) • Ekonomik : racun yang dibuat dan diperlukan untuk pembangunan ( pestisida, insektisida) e. Hidup/ biotis dan tidak hidup/ abiotis f. Kerusakan organ 2. Analisis/ Uji Toksisitas Dalam Peraturan Pemerintah No. 85 tahun 1999 pasal 6 disebutkan bahwa limbah B-3 dapat diidentifikasi menurut sumber atau uji karakterisasi atau uji toksisitas. Uji toksisitas adalah untuk menentukan sifat akut atau khronik limbah. Pada dasarnya pengujian toksisitas bertujuan untuk menilai efek racun terhadap organisme, menganalisis secara obyektif resiko yang dihadapi akibat adanya racun di lingkungan. Toksisitas akut terjadi pada dosis tinggi, waktu pemaparan pendek dengan efek parah dan mendadak, dimana organ absorpsi dan eksresi yant terkena. Sedangkan toksisitas khronis terjadi pada dosis tidak tinggi pemaparan menahun, gejala tidak mendadak atau gradual, intensitas efek dapat parah/ tidak. Jenis uji yang digunakan tergantung pada penggunaan zat kimia dan manusia yang terpapar. Ada beberapa tingkatan dalam uji toksisitas. Tingkat 1 Uji pemaparan akut : • Menggambar kurva dosis dan respon untuk kematian dan kemungkinan cacat tubuh • Uji iritasi mata dan kulit • Membuat saringan pertama untuk mutagenik aktivitas Tingkat 2. Uji pemaparan sub khronis • Menggambar kurva dosis dan respon (pajanan 90 hari) dalam 2 spesies, sebaiknya uji ini menggunakan rute pajanan pada manusia • Uji toksisitas pda organ, catat kematian, penurunan berat badan, hematologi, dan kimia klinis, membuat sayatan dari jaringan secara mikroskopis. • Menyiapkan saringan kedua untuk aktifitas mutagenik • Uji reproduktif dan cacat lahir (teratologi) • Uji pharmakokinetik dari hewan uji : absorbsi, distribusi, metabolisme dan eliminasi dari zat dalam tubuh • Melakukan uji perilaku • Uji sinergisme, potensiasi, dan antagonisme Tingkat 3 Uji pajanan khronis • Melakukan uji mutagenicity pada hewan mamalia • Melakukan uji karsinogenisisi pada hewan pengerat • Menguji farmakokinetik pada manusia • Melakukan uji coba klinis pada manusia • Bandingkan dengan data epidemiologi dari pajanan akut dan kronis Uji toksisitas dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. A. Uji Toksisitas Kuantitatif, Uji toksisitas kuantitatif misalnya dilihat dari segi organ yang terkena racun, misalnya hati, ginjal, sistem saraf dll. Uji toksisitas kuantitatif dapat juga dilihat dari gejala yang timbul mekanisme racun terhadap organ mulai pada tingkat selluler, ke tingkat jaringan, dan sampai pada tingkat organ, serta menimbulkan gejala – gejala fibrosis, granuloma, karsinogenik, teratogenik dll. Dan banyak lagi zat kimia dalam betuk logam dan non logam yang juga dapat menyebabkan efek seperti disebut di atas. B. Uji/Analisis Toksisitas Kuantitatif Uji toksisitas secara kuantitatif dapat ditinjau dari lamanya waktu, yang dapat diklasifikasikan menjadi toksisitas akut, sub-akut, khronis. Toksisitas akut adalah efek total yang didapat pada dosis tunggal/multipel dalam 24 jam pemaparan. Toksisitas akut sifatnya mendadak, waktu singkat, biasanya reversibel. Toksisitas khronis sifatnya permanen, lama, konstan, kontinu, irreversibel Uji toksisitas atas dasar dosis dan waktu berarti spesifik toksisitas akut/ khronis. Dosis adalah jumlah racun yang masuk ke dalam tubuh, besar, kecilnya menentukan efek. Sedangkan efek dosis ini merupakan fungsi dari usia, jenis kelamin, berat badan, portal of entry, frekuensi, interval waktu, kecepatan eksresi, kombinasi dengan zat lain. Terdapat beberapa istilah mengenai dosis yaitu yang umum digunakan adalah Lethal Dosis (LD) : yaitu dosis yang mematikan X % hewan uji dengan satuan berat/berat badan. Dikenal LD10, LD50, LD100, Min LD dan Dosis Therapheutik yaitu dosis yang tepat untuk pengobatan. atau dapat juga dilihat dari konsentrasi LC10, LC5O, LC100. Di dalam PP 18 tahun 1999 dikatakan bahwa limbah yang termasuk limbah B3 adalah limbah lain yang apabila diuji dengan metoda toksikologi memiliki LD50 di bawah nilai ambang batas yang telah ditetapkan yaitu 15 g/kg berat badan. Sedangkan dalam PP No 85 tahun 1999 dikatakan bahwa bila nilai LD50 secara oral lebih besar dari 50 mg/kg berat badan, maka terhadap limbah yang mengandung salah satu zat pencemar pada lampiran III PP tersebut harus dilakukan evaluasi sifat khronis, yaitu mutagenisitas, karsinogenisitas, teratogenisitas. Uji toksisitas biasanya dilakukan dengan menggunakan hewan uji seperti mencit, tikus, kelinci, monyet, anjing dan lain-lain. Pemilihan hewan uji tergantung pada jenis toksikannya dan ketersediaan dana. Setelah diperoleh hasil uji toksisitas, untuk dapat diketahui efeknya terhadap manusia, maka perlu dilakukan extrapolasi. 3. Analisis Efek Bahaya dalam Ekotoksikologi Di dalam ekotoksikologi komponen yang penting adalah integrasi antara laboratorium dengan peneltian lapangan (Kenndall and Akerman, 1992). Pendekatan eksperimental digunakan dalam analisis bahan berbahaya yang berpotensi menimbulkan efek dapat dikembangkan pada beberapa tingkat yang berbeda kompleksitasnya, tergantung pada target dari studi suatu organisasi misalnya satu spesies, populasi, komuniats atau ekosistem. Hal ini tergantung pada tipenya seperti panjang dan pendeknya waktu kematian, khronis atau respon pada sub-khronis, kerusakan reproduktif. Sehingga diperlukan kesepakatan diantara kenyataan ekologi dan kesederhanaan dalam prosedur serta interpretasi hasil. 4. Jenis-jenis Uji Ekotoksikologi Dalam uji ekotoksikologi terdapat lima jenis uji yang ditentukan berkaintan dengan keperluan yang berbeda. Biasanya digunakan pada ikan (Alabaster and Lioyd, 1982), tetapi hal ini akan lebih mudah diterapkan pada tipe organisme , air dan terestrial. Kelima jenis uji tersebut adalah sebagai berikut :  Skrining toksisitas dari zat kimia, secara teoritis, semua bahan kimia dapat ditemukan di dalam lingkungan akuatik sebagai hasil dari pembuangan, atau sebagai tempat akhir yang berasal dari air, tanah dan udara. Jenis uji ini juga digunakan untuk menentukan kemampuan toksisitas dari suatu kelompok zat kimia atau produk yang mungkin ditemukan selama perjalanan masuk ke sungai atau danau, sehingga penggunaan bahan berbahaya daoat du unvestigasi. Uji ini sudah menjadi standar.  Pemantauan toksisitas dari sumber limbah atau tempat pembuangan akhir, umumnya standar kualitas untuk efluen/ keluaran dipecahkan dengan analisis kimia. Walaupun kandungan efluen tercampur dan kompleks, yang sangat berbahaya bagi perikanan dan sukar untuk dianalisis, uji toksisitas pada ikan digunakan untuk mengestimasi risiko dan uji sederhana digunakan untuk pemantauan dari efluen. Uji ini disebut sebagai uji pemantauan efluen dan dinyatakan dalam penampilan yang sama untuk badan air penerima.  Pemantauan toksisitas untuk pengajuan peraturan, standar kualitas untuk efluen yang diuraikan di atas perlu dilegalkan, penetapan batas, membuat prosedur standar adalah penting untuk menetapkan bukti pada bagian hukum. Dengan membandingkan dengan standar toksisitas ikan.  Analisis sensitivitas dari lingkungan alamiah, telah diterangkan di atas bahwa sungai dapat terkontaminasi oleh berbagai sumber yang membawa bahaya bagi pengguna air di bagian hilir.  Uji kriteria kualitas air, banyak sekali pencemaran lingkungan yang terjadi pada lingkungan air sebagai tempat akhir pembuangan baik industri maupun rumah tangga.Beberapa zat kimi akab berada dalam ekosistem dalam waktu yang cukup lama, mungkin juga permanen, sehingga perlu dilakukan analisis bahaya, formulasi kriteria kualitas air dan standar kualitas air. (from : http://bushido02.wordpress.com/2007/11/08/ekotoksikologi-lingkungan/ )
Share READ MORE - Toksikologi Lingkungan

Template by:

Free Blog Templates